Pages
Popular Posts
-
[Intro] C G Bm G C Andai semuanya tak seperti begini D G Cint...
-
SEJARAH PERPECAHAN HMI Fragmentasi didalam gerakan mahasiswa bukanlah hal yang mengejutkan karena gerakan mahasiswa memang bukan ger...
-
BADAN PERWAKILAN MAHASISWA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PASUNDAN Jl. Lengkong Besar No. 68, Bandung 40261, Telp...
-
Tujuan penyelenggaraan pendidikan tinggi hukum Tujuan penyelenggaraan pendidikan ilmu hukum terdapat dalam pasal 1 surat keputusan...
-
Didalam UUD’45 pada BAB XIV tentang PEREKONOMIAN NASIONAL DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL (amandemen keempat...
-
Tidak puas dengan pertumpahan darah dan agresi oleh israel terhadap palestina, kini Israel kembali melakukan pelanggaran hak asasi manusia ...
Kamis, 06 Juni 2013
[Intro] C G Bm
G C
Andai
semuanya tak seperti begini
D G
Cintai
dia hanya bisa dalam hati
C D G Em
Besarnya
cintaku membuat kau suka aku
Am C D
Sungguh
tuhan ini menyakitkan
G C
Tak mungkin
sudah aku dan kamu menyatu
D G
Terlanjur
sudah kau mencintai dirinya
C D G Em
Namun
cinta ini sedikitpun tak berubah
Am C D
Sungguh
tuhan ini menyakitkan
[chorus]
Biarlah
cintamu terbagi
Em D C
Asal jangan
cintamu hilang untukku
Bm Am
Cm G
Cintaku
padamu……..cukup aku yang tahu
G C D
G C D Em Am C D
[chorus]
G D
Biarlah
cintamu terbagi
Em D C
Asal jangan
cintamu hilang untukku
Bm Am
D
Cintaku padamu……..3X
Bm G
Ckup aku yang tahu 3X
..........................................................
..........................................................
Sabtu, 13 April 2013
SEJARAH PERPECAHAN HMI
Fragmentasi didalam gerakan mahasiswa bukanlah hal yang
mengejutkan karena gerakan mahasiswa memang bukan gerakan yang kohesif dan
solid. Gerakan mahasiswa tidak berdiri di atas pondasi yang homogen sehingga
rentan dengan kemungkinan terfragmentasi di antara mereka. Perbedaan cara
pandang dan motivasi dapat membuat gerakan mahasiswa terseret arus konflik yang
pada akhirnya akan menurunkan kekuatan mereka dalam mengahdapi Negara. Pada
tahun 1970-an terdapat perbedaan pendapat diantara kalangan Hmi dalam
menempatkan islam dan Negara. Sebagian kalangan menmpatkan islam dikedudukan
yang paling tinggi, sehingga undang-undang Negara harus disesuaikan dengan
ajaran agama islam. Pihak lain menganggap islam adalah bagian dari Negara
karena Negara lebih superior.
-PENYEBAB PERPECAHAN
Pemerintahan soeharto pada era orba sangat mengutamakan
politik keseragaman dan pemusatan kekuasaan. Oleh karena itu, semua kekuatan
sosial dan politik diapaksa untuk mengubah dasarnya dengan Pancasila. Jika
menolak dapat berakibat dibubarkan. Tahun 1985 pemerintah mengeluarkan
kebijakan UU ormas yang mewajibkan semua ormas memakai asas tunggal Pancasila.
Hmi-pun terkena dampaknya. Kongres XVI di kota Padang pada tahun 1986 menjadi
saksi pengaruh Negara yang berlebihan untuk memaksakan asas tunggal. MPO
(Majelis Penyelamat Organisasi) Hmi menolak menurut mereka Isalam adalah
satu-satunya ideologi yang mereka anut dan menurut pemerintah, berarti gerakan
mahasiswa sudah melupakan karakteristik mendasar, yaitu oposan dan tidak pro
status.-quo. Hmi akhirnya pecah menjadi dua, Hmi Pancasila menjadi
Hmi yang resmi diakui
Negara (tahun 1999 Hmi DIPO mengubah asas pancasial menjadi islam) dan Hmi
Majelis Penyelamat Organisasi (Hmi MPO) yang tetap kukuh berasas Islam.
-PERBEDAAN HMI-MPO DAN HMI-DIPO
Hmi DIPO menilai MPO adalah pemberontak yang menyempal dari
Hmi, sehingga keberadaannya tidak sah. Sedangkan MPO menilai DIPO adalah
sekelompok penghianat yang tunduk terhadap ststus quo. DIPO dinilai jauh dari
gerakan mahasiswa yang oposan dan menentang status quo. Hmi DIPO dinilai lebih
moderat karena mau menggunakan taktik menerima asas tunggal, sedangkan MPO
dinilai lebih fundamental dan tidak mau menyerah pada pemerintah yang tiran.
Pilihan Hmi-MPO untuk berhadap-hadapan dengan rezim orba, mau tidak mau
menempatkannya pada posisi pinggiran (peripheral) sebagai organisasi
underground. Kendati demikian, hal tersebut lalu membentuk karakteristik
gerakan Hmi-MPO yang cukup khas. Ada tiga kawasan strategis yang menjadi
tipologi besar gerakan Hmi-MPO: pertama, gerakan moral politik yang
terkonsentrasi di Jakarta. Kedua, gerakan berbasis moralitas islam-politik yang
menonjolkan nilai-nilai usuliyah, tersentralisasi di Makassar dan
sekitarnya.ketiga, gerakan intelektualisme yang berkembang dikawasan
Yogyakarta. Sedangkan HMI DIPO membagi ‘spesialisasi’
gerakan tiap kadernya menjadi 3, yaitu politisi, intelektual dan
dakwah.
Pada awal keberadaannya, Hmi-MPO tidak hanya sekedar
menjadikan islam sebagai asasnya, tapi jiga implementasi nialai-nilai keislaman
yang sangat kental pada kader-kader Hmi pada awalnya. Sehingga gerakan Hmi-MPO cenderung fundamentalis dan eksklusif.
Selain itu, sikap radikal dan militansi kader menjadisebuah pembeda dengan
kalangan organisatoris lainnya.Identitas lain yang terlihat dari HMI-MPO adalah
tingkat intelektualitas yang dimiliki para kader-kadernya
yang memperlihatkan bahwa budaya diskusi dan membaca sangat mendominasi
kader-kadernya. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya
wacana yang digulirkan oleh aktivis-aktivis HMI-MPO, seperti revolusisistemik
dan gerakan tamaddun. Akan tetapi karena tidak mempunyai akses
dalampemerintahan, maka wacana yang dimunculkan hanya sekedar wacana yang
tiadapernah terealisasi.Di dalam pelatihan kader, HMI-MPO lebih menonjolkan
aspek keislaman dan agak mengabaikan aspek politik/kebangsaan, Pancasila dan
UUD Negara. HMI-MPO tidak banyak melakukan politik praktis dan lebih memilih
melakukan kajian-kajian karena akses politik kader sangat kecil (terbatas).
Status ‘ilegal’
membuat MPO banyak ditekan oleh pemerintah Orba. Usaha untuk menyatukan kedua
HMI bukannya tidak dilakukan. Perbedaan AD/ART dan pola rekruitmen pada awalnya
menjadi hambatan terjadinya persatuan 2 Hmi. Nilai dasar perjuangan (NDP) yang dijadikan landasan perkaderanHMI
DIPO berbeda dengan Khittah Perjuangan yang dimiliki HMI MPO, NDP
lebih menitikberatkan pada wacana Islam kebangsaan yang dipadukan dengan
pemikiran teologi pembebasan (liberal). Sedangkan Khittah perjuangan menekankan
pada wacana penafsiran islam sebagai pandangan hidup (world of view) yang
diselaraskan dengan pemikiran kesadaran keberislaman (teosofi transenden).
Namun, pada Kongres XXVI HMI di Hotel Novotel, Palembang
(29 Juli 2008), kedua HMI sepakat untuk meruntuhkan ego pribadi dan bersatu
dalam rangka menegakkan syiar Islam bersama-sama.
Islah akan ditidak lanjuti dengan merumuskan anggaran dasar
(menyatukan asas dan nilai dasar perjuangan) dan menyatukan pengurusan PBHmi
serta menyatukan perbedaan- perbadaan kulturan kader-kader Hmi dikedua belah
pihak.
sumber:
Langganan:
Komentar (Atom)